Selasa, 14 Juni 2011

Segarkah Ayam yang Kita Makan?

Siapa tak suka daging ayam? Berwarna putih dengan tekstur halus, daging ayam termasuk sumber protein favorit disamping daging sapi dan ikan. Ayam bisa digoreng, dibuat soto, dibakar, dipanggang atau diolah hingga menjadi chicken nugget, baso, atau produk olahan lainnya. Namun, pernahkan kita mencermati bagaimana ayam itu disembelih. Sudah sesuai syariatkah proses penyembelihannya? Konsumsi ayam potong di Indonesia masih lebih rendah dibanding negeri tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Kebutuhan ayam skala nasional hanya 3,36 kg/kapita/tahun.

Sementara kebutuhan ayam nasional Singapura mencapai 32,32 kg/kapita/tahun. Sedangkan Malaysia mencapai 17,90 kg/kapita/tahun. Meski jauh lebih rendah, mata rantai daging ayam potong di Indonesia cukup panjang. Untuk DKI Jakarta misalnya. Kebutuhan ayam potong di DKI Jakarta mencapai satu juta ekor per hari. Umumnya ayam didatangkan dari daerah tetangga seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ayam tersebut masuk Jakarta atau sekitarnya dalam keadaan hidup.

Untuk wilayah Jakarta, pemotongan dilakukan di sekitar Bogor, Tangerang, atau pinggiran Jakarta. Proses pengangkutan pun masih belum memadai karena terhambat iklim panas atau penghujan. Sementara ayam termasuk binatang yang lemah. Jadi kemungkinan ayam mati sepanjang perjalanan cukup besar. Itu artinya ada ayam yang mati bukan karena disembelih. Kematian ayam tak bisa dihindari. Lalu di mana ayam-ayam bangkai itu berada? Apakah mereka dibuang.

Atau jangan-jangan mereka bercokol di piring makanan kita sebagai ayam goreng? Peneliti LLPPOM MUI mendapati adanya ayam bangkai di pasar bebas. Yang dimaksud ayam bangkai adalah ayam yang telah mati sebelum disembelih. Usia kematian sekitar satu hingga lima jam sehingga ayam belum membusuk. Ayam bangkai tersebut dijual dengan harga miring. ''Memang ada pembeli yang datang khusus untuk mengambil ayam yang sudah mati,'' kata seorang peternak ayam kepada Jurnal Halal. Dari pada jadi limbah, peternak ayam pun bersedia menjualnya. Tingkat kematian ayam sebelum disembelih mencapai 0,59 persen. Itu untuk TPA yang cara pengangkutan dan pemotongannya sudah modern.

Sementara bagi proses yang lebih tradisional prosentase kematian ayam potong lebih besar. Di tempat pemotongan tradisional, menurut seorang pengusaha pemotongan ayam, tingkat kematian ayam mencapai 2 persen dari seratus ekor ayam. Cukup tinggi memang. Melihat prosentasi kematian ayam dan kebutuhan ayam perhari diperkirakan dalam sehari minimal ada 3 ribuan ayam mati sebelum disembelih. Ayam yang telah menjadi bangkai itu menjadi beban bagi pengusaha karena menjadi limbah. Sedangkan dalam segi syariat, tak mungkin dikonsumsi karena sudah menjadi bangkai. Pemantauan tim LPPOM MUI membuktikan masih ada peluang ayam bangkai sampai di rumah kita karena harganya lebih murah.

Lalu apa upaya masyarakat? Tak ada yang menjamin ayam yang kita konsumsi halal dan thayyib menurut syariat selain kita sendiri yang harus memperhatikannya. Produsen dan pedagang ayam tentu dituntut kejujurannya dalam hal ini. ''Sangat sulit mengelani ayam bangkai dan ayam potong segar,'' tutur seorang pedagang ayam di pasar Rumput. Pedagang yang culas kerap menyelipkan daging ayam bangkai di tengah daging ayam potong segar. Karena itu, menurut tim peneliti LPPOM MUI, jalan terbaik adalah mengenal penjual ayam atau cermat memperhatikan proses pemotongannya. Atau membeli di tempat tertentu yang produknya telah memperoleh sertifikasi halal.

Cukup banyak ayam potong yang perusahaannya telah mengantongi sertifikat halal. Mungkin harganya lebih mahal. Tapi dari pada makan bangkai? Mendeteksi Ayam BangkaiDaging ayam masih merupakan sumber protein hewani yang digemari. Selain harganya lebih murah dibanding daging sapi atau kerbau, ada filosofi lain yang mulai dianut masyarakat.

Banyak kalangan yang mulai pantang daging merah atau daging sapi dan kambing. Mereka memilih daging putih yang berarti ayam dan ikan. Namun kenikmatan mengonsumsi daging ayam kini terganggu dengan beredarnya daging ayam potong yang diragukan proses penyembelihannya. Daging ayam tersebut biasanya dijual dalam bentuk setengah matang atau telah direbus dengan bumbu terlebih dahulu. Konsumen tinggal menggoreng atau mengolahnya sesuai selera.

Bagaimana memilih daging ayam apakah dipotong berdasar syariat atau sudah mati baru dipotong. Ayam normal: warna daging normal, merah mudah-putih merata pada seluruh bagian. tekstur daging normal kenyal. aroma normal tidak busuk. Persendian saat dipotong bersih Ayam bangkai:daging ayam bangkai berwarna merah tua cenderung hitam dan tak merata, terpusat pada bagian tertentu (terutama sayap). Teksturnya lembek, kulit gampang terkelupas. Ayam bangkai berbau agak keras atau menusuk. Pada persendian terdapat gumpalan darah saat dipotong. Biasanya ayam bangkai diwarnai kuning atau telah direbus dulu sebelum dijual. siti darojah/jurnal halal LPPOM MUI/dokrep/September 2002
Redaktur: STMIK AMIKOM (republika.co.id)
Anda mau memesan ayam potong syariah ? Klik sekarang  Cara Pesan di Belanja Cikarang

Mau lihat daftar produk lainnya yang sedang Anda cari? Klik disini

Lihat juga Berita lainnya terkait ayam potong :